Kamis, 11 September 2008

Menggapai Jakarta




Tulisan ini aku buat lebih dari 1 th yang lalu.....dan pasti ada banyak cerita dari perjalanan itu. Bergumul di lantai 7 selama ini selain penuh dengan canda tawa, juga membuat aku belajar banyak tentang segala hal; konflik, kerja tim, ilmu-ilmu good governance.....semuanya membuat aku semakin 'kuat' dan tidak bosan untuk belajar...belajar dan belajar. Tak ada gading yang tak retak pokoke :))

*********

Welcome to the jungle!!!...itulah kata-kata pertamaku, saat ‘dikerjai’ orang yang aku tanya dimana letak Surya Building itu. Aku pikir SB itu letaknya sampingan dengan Menara Thamrin, ternyata satpam yang pertama bilang aku kelewatan, meski tidak terlalu jauh. Panas pasti, plus berkeringat hehehe, aku kembali mencari SB itu, sambil ngedumel terkait dengan bayaran taxi yang percuma saja tadi, karena aku masih jalan kaki!. Aku kembali bertanya ke seorang satpam, ada keraguan, eh ternyata dengan cuek dan tidak ramah satpam itu kasih tahu bahwa SB itu letaknya diarah yang berlawanan. Eiiit...sialan neh saptam.

Ramahnya sambutan resepsion membuat aku sedikit lega dan menunggu dengan santai di ruang tunggu. Dwi, yach di staf HR yang tadinya hanya aku kenal lewat suara saja. Dia mempersilahkan aku untuk duduk menunggu “owner” dari proyek, itu istilah yang baru aku dengar. Tidak sampai sepuluh menit. Aku berkenalan dengan Hera, Natalia Hera, ternyata dialah yang disebut owner itu. Mbak Hera, itu panggilan ku ke dia, menunjukkan level dia emang mengharuskan aku memanggilnya begitu. Awal yang baik, Mbak Hera membawaku berkeliling untuk berkenalan dengan semua staf, jujur, ini membuat aku mendadak bete karena tidak semua staf (lama) menyambut dengan senyum yang ramah. It’s okay!....aku optimis ini semua akan berjalan baik.



Rabu, 10 September 2008

Dalam kesendirian

Beberapa bulan yang lalu....

Aku menangis menatap kosong pusara ibu mertua tercinta. Begitu cepat beliau pergi setelah berjuang melawan penyakit yang tiba-tiba datang tanpa diundang.

Tangisku terus mengalir, diiring setitik penyesalan. Tidak banyak waktuku untuk bercengkrama dengan beliau sejak aku dinikahi oleh putra tercintanya. Ibu yang begitu baik, tidak pernah marah, selalu ingin membuat aku senang. Tapi aku belum bisa memberikan apa-apa untuk beliau.

Selamat jalan Ibu….hanya doa-doa yang bisa aku kirimkan untukmu.


Judul ini


Tidak ada alasan tertentu mengapa aku memilih judul ini. Hanya untuk penekanan bahwa selama ini tidak semua kejadian dalam hidupku bisa terekam dengan sempurna. Hanya yang sangat spesial (dari berbagai sudut) bisa aku tuangkan disini.

Tidak juga bermaksud menyaingi para penulis profesional, jadi jangan berharap menemukan tulisan yang terangkai indah disini. Yang tertuang adalah yang teringat dan tidak dibuat-buat.